Kapan Kawin? : Jawaban Untuk Para Jomblo

legacypictures.co.id

Judul film: Kapan Kawin?

Sutradara: Ody C. Harahap

Genre: Romance and Comedy

Release date: 12 Februari 2015

Theater: XXI, Blitzmegaplex dan Cinemaxx

Saat ini di Indonesia, ada dua jenis pertanyaan yang dibenci oleh kebanyakan orang. Pertama, pertanyaan “agama kamu apa?” dan kedua, pertanyaan “kapan kawin?”. Entah mengapa orang Indonesia menyukai hal-hal yang sangat personal dari diri seseorang ketika menanyakan pertanyaan – pertanyaan tersebut. Padahal sebenarnya “mau agamanya apa” dan “kawinnya kapan” itu adalah urusan masing-masing individu. Suka ikut bertanya dan ingin tahu urusan orang lain itu sifat manusia Indonesia sekali, hal itu juga terlihat dengan lakunya tayangan infotainment di televisi Indonesia.

Pertanyaan “kapan kawin?” sangat relevan untuk manusia perkotaan di Indonesia, kesibukan mengejar karir dan pendidikan menjadi prioritas mengapa menikah tidak menjadi suatu hal yang mendesak di dunia modern perkotaan. Saat ini, untuk orang perkotaan, menikah tidak menjadi goal dalam hidup karena orang-orang ini mau terlebih dahulu membahagiakan diri mereka dengan pencapaian-pencapaian baik dalam karir maupun pendidikan. Pencapaian-pencapaian inilah yang tidak pernah dilihat (baca: tidak dimengerti) oleh orang-orang yang selalu menyindir orang-orang yang memilih untuk belum menikah. Para penyindir para jomblo (single person) dan bahkan tragisnya membuat orang yang jomblo itu adalah sesorang yang hina. Bahkan ada pemuka agama ada yang menjual pernikahan semata-mata hanya untuk Tuhan dan agama, tanpa memikirkan kebahagiaan individu itu sendiri. Bahkan para pemuka agama ini menyarankan untuk menikah semuda mungkin, padahal mungkin saja orang-orang yang memilih untuk belum menikah, masih ingin mencapai goal dalam hidup mereka  tapi ironisnya para jomblo ini sudah mendapat tekanan-tekanan seperti ini. Sangat tidak adil.

Berkat pertanyaan menyebalkan “kapan kawin?” yang menyebalkan ini, hadirlah sebuah film yang mengambil fenomena dari pertanyaan itu, lengkap dengan segala intriknya yang diberi judul Kapan Kawin?

Cerita

Dinda (Adinia Wirasti), wanita karir yang sukses dalam pekerjaannya, mendapat telepon dari orang tuanya yang berada di Yogyakarta untuk segera menikah. Alasan orang tua Dinda untuk mendesak Dinda menikah bukan tanpa alasan, hal itu karena Dinda sudah berumur 33 tahun, yang menurut orang tua Dinda, Dinda harus segera menikah. Untuk membahagiakan orang tuanya, Dinda kemudian menyewa seorang aktor jalanan yang bernama Satrio (Reza Rahadian) untuk berpura-pura sebagai kekasihnya.

Satrio dan Dinda akhirnya pergi ke Yogyakarta untuk bertemu dengan orang tua Dinda. Selama berada di Yogyakarta, Dinda dan Satrio memainkan perannya dengan baik sebagai kekasih, tapi bukan hal ini bukan tanpa kendala, karena ternyata baik Dinda maupun Satrio perlahan-lahan saling jatuh cinta. Namun, ketika cinta itu datang kepada Satrio dan Dinda, mereka berdua mendapat hambatan karena orang tua Dinda tidak mengetahui kehidupan sebenarnya Satrio dan juga orang tua dinda berharap Dinda memiliki suami sesempurna kakaknya yaitu Nadya (Febby Febiola).

seneng yang kamu kasih ke mereka, itu kayak check kosong, kalo kamu mau kasih duit, punya duit dulu, kalo kamu mau bikin seneng orang, kamu dulu yang seneng (Kapan Kawin?)

Opini

Kapan Kawin? tampil dengan jalan cerita yang sangat klise karena kalau kita sering menonton film-film atau drama Korea Selatan sudah pasti tahu alur bakan ending cerita film ini akan menjadi seperti apa. Pengembangan karakternya pun juga sangat klise sama seperti film-film drama pada umumnya seperti; awalnya benci sama pasangannya kemudian jadi jatuh cinta setelahnya. Tapi bagusnya Kapan Kawin? tidak langsung membuat karakternya saling jatuh cinta, ada pembangunan karakter yang cukup rapi, jadi tidak langsung terjadi saling cinta antar karakter utamanya.

Saya sangat terhibur dengan kelucuan dan gestur dari Reza Rahadian di Kapan Kawin?. Bagaimana kocaknya Reza dalam memainkan perannya sebagai Satrio. Kelucuan Kapan Kawin? sangat total berada di tangan seorang Reza sendirian, Reza memberikan nyawa komedi di film ini dengan sangat baik. Namun, kelucuan Reza hanyalah terletak pada setengah durasi film saja, karena setengahnya lagi berisi hal yang serius, nyaris tanpa komedi sama sekali.

Chemistry antara Adinia dan Reza mungkin adalah hal yang terbaik yang dimiliki oleh film Kapan Kawin?. Dialog dan emosi yang diletupkan oleh Adinia dan Reza sangat memukau di film ini, keduanya benar-benar mendalami perannya masing-masing. Emosi keduanya terlihat dalam perselisihan dan timbulnya benih-benih cinta antar keduanya. Baik Adinia dan Reza masuk dalam karakter Dinda dan Satrio dengan sangat baik dan pas.

kapanlagi.com

Kapan Kawin? sebenarnya menjawab pertanyaan “kapan kawin?” itu sendiri. Jawaban itu misalnya; bahwa tidak baik kalau kita melakukan push besar pada seseorang untuk segera menikah, seperti yang terjadi pada Dinda yaitu; membohongi orang tuanya dengan berpura-pura memiliki kekasih dengan menyewa aktor. Di film ini, kita bisa melihat bagaimana pandangan kolot orang tua zaman dahulu yang selalu menyegarakan pernikahan bagi anaknya dan selalu membandingkan kesuksesan anaknya dari pilihan pasangannya. Kapan Kawin? juga memberi kesan kalau pernikahan itu tidaklah sempurna, karena di film ini kita melihat kisah pernikahan kakak Dinda yang memiliki suami yang tidak peduli dan tanpa perhatian kepada istri dan anaknya.

Film Kapan Kawin? banyak menangkap fenomena yang terjadi di masyarakat terutama untuk kaum perkotaan dan problematikanya. Misalnya; perbedaan mindset manusia zaman sekarang dengan manusia zaman dahulu, yang direfleksikan dengan hubungan Dinda dan orang tuanya yang mendesaknya untuk segera menikah. Fenomena lainnya adalah tentang menikah itu sendiri, karena zaman sekarang orang yang hidup di perkotaan sudah sibuk dengan pencapaian diri sendiri seperti; karir dan pendidikan, hal ini terlihat dari kehidupan Dinda yang belum menikah hingga ia berumur 33 tahun.

Fenomena yang menarik di Kapan Kawin? adalah ketika film ini menyindir diri kita yang terus peduli pada orang lain bahkan melupakan kebahagiaan diri sendiri. Saya paham bahwa manusia adalah mahluk sosial tapi manusia perlu juga bahagia dan perlu juga dimengerti serta tidak perlu didesak untuk hal yang personal seperti menikah. Fenomena inilah yang coba ditangkap oleh film Kapan Kawin? melalui kehidupan Dinda dan orang tuanya. Meskipun mengambil karakter dari suku Jawa yang selalu repot masalah pernikahan tapi masalah pernikahan tidak hanya terjadi di suku jawa yang terkenal kolot dan kaku, sampai ada pertanyaan pernah narkoba dan seks bebas segala di film ini, geez, tapi juga kepada suku lainnya di Indonesia, maka cerita di film ini menjadi sebuah generalisasi kehidupan desakan pernikahan yang terjadi pada masyarakat di seluruh Indonesia.

21cineplex.com

Seperti yang sudah disebutkan di atas kalau film Kapan Kawin? adalah film untuk pertanyaan kapan kawin itu sendiri. Poin terpenting dari film Kapan Kawin adalah untuk menjawab kegelisahan para jomblo yang di desak untuk menikah buru-buru oleh orang tuanya. Sekaligus film ini adalah pembelaan untuk para jomblo yang selalu didesak untuk menikah oleh lingkungannya. Para jomblo bisa beralasan kalau melihat film ini, untuk tidak menikah terburu-buru karena menikah itu sangatlah tidak mudah, hal itu diperlihatkan bagaimana Nadya yang menjadi korban KDRT suaminya. Oleh karena itu, menikah itu tidaklah mudah, ada hal-hal yang perlu dipertimbangkan dan jodoh akan selalu datang akhirnya seperti yang terjadi di film ini.

Kesimpulan

Kapan Kawin? menjadi sebuah film yang bagus dan layak untuk ditonton. Meskipun alur cerita dan pengembangan karakternya yang biasa saja dan cenderung mudah untuk ditebak namun, Kapan Kawin? tetap menawarkan kelucuan dan hiburan baik bagi keluarga dan pasangan yang menonton film ini. Film ini sebenarnya tidak hanya direkomendasikan untuk para pasangan yang hendak menikah tapi juga untuk para jomblo, karena para jomblo bisa menjawab pertanyaan “kapan kawin?” yang menyebalkan itu melalui film ini. Film ini juga menangkap fenomena-fenomena yang terjadi di masyarakat misalnya seperti; perbedaan pandangan antara orang dahulu dan orang sekarang yang diperlihatkan dari hubungan Dinda dan orang tuanya. Sangat menarik untuk ditonton

Score: 7 of 10

PS: Tumben gak ada jokes perbedaan nikah dan kawin di film Kapan Kawin?. Juga, ah Keluarga Cemara udah tajir sekarang, udah gak jualan opak lagi. Agil sama Ara udah ganti nama jadi Nadya dan Dinda. zzzz

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s