A Most Wanted Man: How Espionage works today

Goodie.Wordpress.com

Judul film: A Most Wanted Man

Sutradara: Anton Corbijn

Genre: Thriller

Release date: 1 Agustus 2014

Film tentang bagaimana perang melawan terorisme banyak dibuat setelah kejadian 11 September 2011. Beberapa film sangat bagus mengangkat tema tersebut seperti; “The Hurt Locker” (2009) yang memenangkan “Best Picture” pada piala Oscars tahun 2010, “Zero Dark Thirty” (2012) dan serial televisi “Homeland” (2011-present). Selain disukai oleh kritikus, film dan serial televisi tersebut juga mendapatkan perhatian dari penonton di dunia. Namun, tidak sedikit film bertema war against terror ini yang luput dari perhatian penonton namun, mendapatkan pujian dari kritikus dan memenangkan penghargaan, salah satu film tersebut adalah A Most Wanted Man yang merupakan adaptasi dari novel tahun 2008 dengan judul yang sama karya John Le Carre.

.It takes a minnow to catch a barracuda, a barracuda to catch a shark – Gunther Bachmann

A Most Wanted Man adalah film terakhir dari aktor kaliber Oscars, Philip Seymour Hoffman sebelum ia menghembuskan nafas terakhirnya karena overdosis pada tahun 2014. A Most Wanted Man sendiri bercerita tentang seseorang yang terduga teroris bernama Issa Karpov (Grigoriy Dobrygin) secara tiba-tiba memasuki wilayah Jerman, kejadian tersebut mematik bahaya bagi keamanan nasional Jerman juga bagi dunia internasional.

Cerita

Kehadiran Issa Karpov di Jerman direspon mata-mata Jerman bernama Gunther Bachmann (Philip Seymour Hoffman) sebagai peluang untuk membongkar jaringan teroris Al-Qaeda yang diduga mendapatkan dana melalui Dr. Abdullah (Homayoun Ershadi) di Jerman. Berdasarkan hal itu, Bachmann meminta otoritas keamanan Jerman yang dipimpin oleh Mohr (Reiner Bock) dan Atase Amerika Serikat bernama Sullivan (Robin Wright) untuk tidak segera menangkap Issa Karpov dan membiarkan Issa Karpov untuk berkeliaran di Jerman. Hal ini tentu membuat ketegangan antara Bachmann, Sullivan dan Mohr dalam menanggapi hal ini.

Tujuan Issa Karpov selama berada di Jerman adalah untuk mendapatkan suaka dari Jerman karena ia dipenjarakan dan mengalami siksaan oleh pemerintah Rusia. Issa Karpov kemudian mendapat bantuan dari pengacara yang khusus menangani kasus-kasus kemanusiaan yaitu Annabel Richter (Rachel McAdams). Merasa percaya dengan Richter, Issa Karpov mengungkapkan kepada Richter bahwa; tujuan ia ke Jerman, selain mencari suaka, adalah untuk mendapatkan uang pemberian ayahnya yang disimpan di Bank milik Tommy Brue (Willem Dafoe).

Dengan cara memaksa, Bachmann menuntut Brue dan Richter untuk bekerjasama dengannya. Misinya tetap sama yaitu mengungkap jaringan teroris Al-Qaeda melalui uang warisan Issa Karpov yang nantinya diberikan kepada Dr. Abdullah dan berharap Dr. Abdullah melakukan transfer dana kepada rekening yang milik Al-Qaeda tersebut. Brue dan Richter akhirnya menyetujui rencana tersebut dengan imbalan Bachmann tidak membuka kasus pencucian uang yang dilakukan oleh bank milik Brue dan kepada Richter dijanjikan Issa Karpov akan aman dan mendapatkan suaka serta memulai hidup baru di Jerman. Di sisi lain, ada pihak Sullivan dan Mohr yang ingin segera dan tidak sabar untuk menangkap Issa Karpov dan menahannya segera karena mengancam keamanan Jerman dan tidak peduli dengan rencana Bachmann untuk membongkar jaringan Al-Qaeda.

Opini

Philip Seymour Hoffman adalah pusat cerita dan karakter dalam A Most Wanted Man dan ia memberikan yang terbaik di film terakhirnya ini. Hoffman memang bukan aktor sembarang, beberapa kali  ia memberikan akting yang terbaik seperti menjadi writer di “Capote” (2005), menjadi kepala pastor yang hobi mencabuli anak dibawah umur di “Doubt” (2008) bahkan Hoffman seringkali memainkan karakter yang mirip dengan tema film A Most Wanted Man yaitu tentang politik dan dunia mata-mata seperti menjadi anggota CIA yang berteman dengan politikus Amerika Serikat di “Charlie Wilson’s War” (2007), Menjadi musuh dari Ethan Hunt dari “Mission: Impossible III” (2006), Campaign manager di “Ides of March” (2011) serta di franchise film “Hunger Games” (2013,2014,2015) dengan menjadi ahli propaganda. Melihat track record Hoffman seperti ini saya meyakini bahwa Hoffman memang terlahir untuk membintangi film-film yang memiliki karakter yang kuat dengan tema politik oleh karena itu ia sudah pasti tidak akan kesulitan dalam A Most Wanted Man.

cinemaismylife.com

Kembali ke A Most Wanted Man, beberapa kali saya melihat akting yang begitu remarkable Hoffman di film ini seperti ketika; Bachmann berbicara dengan kontaknya di atas kapal pesiar karena kontaknya ingin pensiun dari pekerjaan menjadi seorang mata-mata. Bachmann meyakinkan kepadanya bahwa “tidak mungkin untuk kembali ketika sesuatu telah dimulai”. Juga, ketika Bachmann mengatakan kepada Richter saat Richter diintrogasi oleh Bachmann. Di situ, Bachmann dengan akting meyakinkan Hoffman mengatakan pilihan Richter hanyalah mereka atau tidak ada seorangpun.

Your Choice is between us and nobody – Gunther Bachmann

Bagian terbaik sekaligus favorite saya dalam akting luar biasa Hoffman di film ini adalah ketika Bachmann diakhir film berteriak “FUCCCCKKKKK, FUCCCCCKKKK “dengan suara dan gesture tubuh yang sangat apik dan terlihat kesal. Saya bertepuk tangan kepada Hoffman ketika ia melakukan scene ini.

Alur cerita film A Most Wanted Man memang cenderung lambat dan bisa sedikit membosankan sama seperti film tentang mata-mata lainnya yaitu “Tinker Taylor Soldier Spy” (2011) bahkan juga sama dengan film buatan Sutradara film ini sebelumnya yaitu “The American” (2010). Kesamaan lainnya, A Most Wanted Man juga minim action karena well, kerja seorang mata-mata sebenarnya ya realistis seperti ini bukan melulu action tembak-tembakan kayak “Mission Impossible”, “Bourne” dan “James Bond” Franchise.

Cerita dalam A Most Wanted Man sebenarnya sangat mudah diikuti ini adalah tentang bagaimana menangkap dan membongkar kedok terorisme yang lebih besar. Namun, yang membuatnya menarik adalah penonton diberi tahu bagaimana cara kerja seorang mata-mata secara realistis dan tidak melulu soal action. Kita melihat bagaimana Bachmann memiliki kontak yang dekat dengan teroris, bekerjasama dalam sebuah tim yang solid, mengatur penyadapan dan rekaman pembicaraan teroris bahkan Bachman memaksa orang lain dalam hal ini warga sipil untuk mengikuti rencana besarnya.

Rickihobson.wordpress.com

Dalam A Most Wanted Man juga penonton diajarkan bagaimana melihat karakter seorang mata-mata dalam melakukan analisa pada ancaman nasional melalui cara kerja seorang Bachmann dan tim-nya. Hal itu seperti; seorang mata-mata tidak pernah menangkap musuhnya, ia selalu melaporkan dan membuat analisa ancaman keamanan nasional serta ia harus berpikir kritis dan melihat bigger picture dari suatu hal. Melihat bigger picture diperlukan untuk menghadapi musuh yang lebih besar, sense and logical thinking Bachmann di ataslah yang tidak dimiliki Sullivan dan Mohr yang seringkali membuat kesal Bachmann karena mereka hanya berkeinginan menangkap Issa Karpov sebelum Issa Karpov melakukan ancaman keamanan di Jerman daripada menuruti rencana Bachmann agar Issa Karpov bisa menggiring dan membawanya untuk membongkar kedok terorisme yang lebih besar. Perbedaan pandangan antara Bachmann dengan Sullivan serta Mohr inilah yang sebenarnya tidak kasat mata karena diperlukan fokus dan perhatian yang cukup dari penonton dan membuat menarik film ini dan membuat konklusi yang apik di akhir filmnya.

Satu hal yang cukup menganggu saya diawal film A Most Wanted Man adalah ketika film ini memberikan fakta yang salah. A Most Wanted Man menulis bahwa Muhammad Atta merencanakan peristiwa 9/11 di Jerman. Padahal Muhammad Atta telah berada di Amerika Serikat sejak tahun 2000 dan tidak pernah  kembali ke Jerman untuk merencanakan penghancuran gedung kembar World Trade Center pada  tahun 2011.

Kesimpulan

Segera tonton film A Most Wanted Man karena film ini menggambarkan kinerja, karakter dan cara analisa Mata-mata dalam menjalankan tugasnya secara realistis dan tidak melulu tentang tembak-tembakan. Perhatikan juga gesture tubuh dan gaya bicara pada akting Hoffman yang sukses memerankan karakter Gunther Bachmann dengan sangat baik dan menutup aktingnya di dunia perfilman dengan sangat luar biasa.  Film ini juga sangat cocok untuk ditonton bagi penontn yang menikmati tema espionage.

Score: 8 of 10.

PS: Selamat Jalan, Philip Seymour Hoffman. You’re gonna missed. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s